Tekanan darah diukur berdasarkan seberapa banyak darah yang mengalir melalui pembuluh darah dan seberapa besar hambatan yang dihadapi darah saat jantung memompa.
Tekanan darah tinggi (hipertensi) terjadi ketika darah yang mengalir dalam pembuluh darah terus-menerus memberikan tekanan yang terlalu kuat. Dalam artikel ini, kita akan membahas dasar-dasar hipertensi, mulai dari gejala, penyebab, cara mengobati, dan lainnya.
Mengapa Tekanan Darah Bisa Tinggi?
Jika pembuluh darah menyempit, darah akan lebih sulit mengalir keluar dari jantung. Semakin sempit pembuluh darah, semakin besar tekanan yang dibutuhkan untuk mendorong darah, sehingga tekanan darah pun meningkat. Jika kondisi ini terjadi dalam jangka panjang, bisa menyebabkan masalah kesehatan serius, seperti penyakit jantung.
Hipertensi sangat umum terjadi. Sejak pedoman medis diperbarui pada tahun 2017, hampir setengah dari orang dewasa di Amerika mengalami tekanan darah tinggi, menurut American Heart Association.
Biasanya, hipertensi berkembang perlahan selama bertahun-tahun dan tidak menimbulkan gejala apa pun. Tapi meskipun tanpa gejala, hipertensi tetap bisa merusak pembuluh darah dan organ penting seperti otak, jantung, mata, dan ginjal.
Deteksi dini sangat penting. Pemeriksaan tekanan darah secara rutin bisa membantu Anda dan dokter memantau perubahan. Jika tekanan darah Anda tinggi, dokter mungkin akan meminta Anda mengukur tekanan darah selama beberapa minggu untuk melihat apakah tekanannya tetap tinggi atau kembali normal.
Pengobatan hipertensi bisa berupa kombinasi obat resep dan perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat. Jika tidak ditangani, tekanan darah tinggi bisa menyebabkan masalah serius seperti serangan jantung atau stroke.
Cara Membaca Tekanan Darah
Hasil pengukuran tekanan darah terdiri dari dua angka:
-
Tekanan sistolik (angka atas): tekanan saat jantung berdetak dan memompa darah.
-
Tekanan diastolik (angka bawah): tekanan saat jantung sedang beristirahat di antara dua detakan.
Terdapat lima kategori tekanan darah untuk orang dewasa:
-
Normal: Tekanan sistolik di bawah 120 mm Hg dan diastolik di bawah 80 mm Hg (misalnya 120/80).
-
Elevated (sedikit tinggi): Tekanan sistolik antara 120–129 mm Hg, dan diastolik masih di bawah 80 mm Hg. Biasanya belum perlu obat, tapi disarankan untuk mulai ubah gaya hidup.
-
Hipertensi tahap 1: Sistolik antara 130–139 mm Hg atau diastolik antara 80–89 mm Hg.
-
Hipertensi tahap 2: Sistolik 140 mm Hg atau lebih, atau diastolik 90 mm Hg atau lebih.
-
Krisis hipertensi: Sistolik lebih dari 180 mm Hg atau diastolik lebih dari 120 mm Hg. Ini darurat medis. Apalagi jika muncul gejala seperti nyeri dada, sakit kepala hebat, sesak napas, atau gangguan penglihatan — segera ke unit gawat darurat.
Pengukuran tekanan darah dilakukan dengan alat manset (cuff). Penting untuk menggunakan ukuran cuff yang pas agar hasilnya akurat. Manset yang terlalu longgar atau ketat bisa membuat hasilnya keliru.
Untuk anak-anak dan remaja, angka normal tekanan darah berbeda. Konsultasikan dengan dokter anak jika perlu memantau tekanan darah mereka.
Apa Penyebab Tekanan Darah Tinggi?
Tekanan darah tinggi (hipertensi) dibagi menjadi dua jenis, dan masing-masing memiliki penyebab yang berbeda:
1. Hipertensi Esensial (Primer)
Ini adalah jenis hipertensi yang paling umum dan berkembang secara perlahan seiring waktu tanpa penyebab yang jelas. Beberapa faktor yang berperan antara lain:
-
Faktor genetik: Beberapa orang memiliki risiko bawaan dari orang tua atau karena mutasi gen tertentu.
-
Usia: Orang yang berusia di atas 65 tahun lebih rentan mengalami hipertensi.
-
Ras: Di Amerika Serikat, orang kulit hitam lebih sering mengalami tekanan darah tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik, budaya, dan sistemik ikut memengaruhi.
-
Obesitas: Kelebihan berat badan dapat menyebabkan berbagai masalah jantung, termasuk tekanan darah tinggi.
-
Konsumsi alkohol: Bahkan hanya satu gelas alkohol per hari bisa meningkatkan risiko hipertensi, dan semakin banyak dikonsumsi, risikonya juga meningkat.
-
Kurang gerak: Gaya hidup yang terlalu banyak duduk dan jarang bergerak juga berkaitan dengan masalah jantung, termasuk hipertensi.
-
Diabetes atau sindrom metabolik: Penderita kondisi ini memiliki risiko lebih tinggi mengalami tekanan darah tinggi.
-
Konsumsi garam berlebihan: Mengonsumsi lebih dari 5 gram garam per hari sangat erat kaitannya dengan tekanan darah tinggi.
Dampak Tekanan Darah Tinggi bagi Tubuh
Karena hipertensi sering tidak menimbulkan gejala, tubuh bisa mengalami kerusakan selama bertahun-tahun tanpa disadari. Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa menyebabkan komplikasi serius, bahkan mengancam nyawa.
Hipertensi dapat merusak pembuluh darah, membuatnya lebih kaku dan sempit. Hal ini memudahkan penumpukan plak yang bisa menghambat aliran darah, memengaruhi banyak organ tubuh.
Komplikasi serius akibat hipertensi antara lain:
-
Stroke
-
Serangan jantung
-
Gagal jantung
-
Gangguan irama jantung (aritmia)
-
Kematian jantung mendadak
-
Penyakit ginjal atau gagal ginjal
-
Kehilangan penglihatan
-
Gangguan fungsi seksual
-
Masalah kognitif seperti demensia
Cara Menurunkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
Jika Anda memiliki faktor risiko hipertensi, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk mencegah atau mengurangi risikonya:
-
Konsumsi minimal 4 porsi buah dan 5 porsi sayur setiap hari
-
Batasi konsumsi gula tambahan atau makanan manis
-
Kurangi asupan garam harian menjadi 1,5 hingga 2,3 gram
-
Jika memiliki berat badan berlebih, buat target penurunan berat badan
-
Rutin memeriksa tekanan darah secara berkala untuk pemantauan
Kesimpulan
Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi serius yang bisa berkembang secara perlahan tanpa gejala. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari faktor genetik, usia, gaya hidup, hingga konsumsi garam dan alkohol berlebihan. Jika tidak diobati, hipertensi dapat merusak pembuluh darah dan menyebabkan komplikasi berbahaya seperti serangan jantung, stroke, dan gagal ginjal.
Namun, risiko hipertensi bisa dikurangi dengan menjalani pola hidup sehat, seperti makan lebih banyak buah dan sayur, membatasi garam dan gula, menjaga berat badan ideal, serta rutin memeriksa tekanan darah. Deteksi dini dan perubahan gaya hidup yang tepat sangat penting untuk menjaga kesehatan jantung dan mencegah komplikasi serius.
