Pada orang yang lahir dengan jenis kelamin laki-laki, sebagian besar hormon testosteron diproduksi di testis. Sedangkan pada orang yang lahir dengan jenis kelamin perempuan, sebagian besar testosteron diproduksi di ovarium.

Orang yang lahir sebagai laki-laki biasanya memiliki kadar testosteron lebih tinggi dibandingkan mereka yang lahir sebagai perempuan. Hormon ini berperan penting dalam membentuk berbagai ciri fisik, seperti menambah massa otot, memperkuat tulang, meningkatkan kekuatan fisik, dan merangsang pertumbuhan rambut di tubuh.

Kadar testosteron dalam tubuh selalu berubah mengikuti kebutuhan tubuh. Namun, jumlah keseluruhan testosteron juga akan berubah seiring bertambahnya usia. Biasanya, kadar testosteron akan menurun seiring penuaan — terutama pada orang yang lahir sebagai laki-laki. Pada sebagian orang, penurunan ini bisa terlalu rendah sehingga menimbulkan efek yang tidak diinginkan, sehingga mereka mencari cara untuk menaikkan kadar testosteron.

Apa itu tes testosteron?

Untuk mengetahui apakah kadar testosteron terlalu rendah, dokter perlu membandingkannya dengan kadar normal. Hal ini sempat menjadi tantangan bagi para ahli. Namun, menurut rilis dari Endocrine Society pada Januari 2017, penelitian terbaru membantu menentukan rentang normal testosteron pada orang yang lahir sebagai laki-laki: 264–916 nanogram per desiliter (ng/dL). Rentang ini berlaku untuk usia 19–39 tahun yang tidak mengalami obesitas.

Tes testosteron dilakukan dengan mengukur jumlah hormon ini dalam darah. Biasanya dokter akan meminta tes dilakukan di pagi hari, antara pukul 07.00–10.00, karena kadar hormon tertinggi ada di jam tersebut. Kadang, dokter juga meminta tes dilakukan lebih dari satu kali.

Sebelum tes, dokter mungkin menyarankan menghentikan sementara obat-obatan tertentu karena bisa memengaruhi hasil tes. Jadi, penting untuk memberi tahu semua obat yang sedang dikonsumsi — baik obat resep maupun obat bebas.

Selain di laboratorium, kini tersedia juga alat tes testosteron di rumah dari perusahaan seperti LetsGetChecked. Tes ini menggunakan sampel air liur, lalu sampel dikirim ke laboratorium untuk diperiksa.

Bagaimana cara meningkatkan kadar testosteron?

Ada beberapa cara alami yang bisa membantu menaikkan kadar testosteron, misalnya dengan mengubah gaya hidup, melakukan olahraga beban, dan menurunkan berat badan.

Penelitian menunjukkan bahwa olahraga beban seperti angkat besi dapat meningkatkan testosteron untuk sementara waktu.

Studi lama pada tahun 1999 juga menemukan bahwa peningkatan testosteron setelah olahraga beban lebih besar terjadi pada orang muda dibandingkan orang yang lebih tua, dan peningkatan itu tidak terlalu berpengaruh pada kadar testosteron keseluruhan.

Olahraga — terutama olahraga kardio — juga dapat membantu menurunkan berat badan, dan penurunan berat badan ini bisa membantu meningkatkan kadar testosteron.

Mengatasi Kadar Testosteron Rendah

Selain mengubah gaya hidup dan menambah porsi olahraga, ada beberapa cara lain yang dapat membantu meningkatkan jumlah testosteron di tubuh. Beberapa cara ini sudah terbukti lewat uji klinis, tetapi ada juga yang hanya mengklaim bisa menaikkan testosteron tanpa bukti ilmiah yang kuat.

Kalau kamu merasa kadar testosteronmu bermasalah, sebaiknya bicarakan dengan dokter. Dokter bisa memeriksa kadar testosteron dan menyusun rencana perawatan yang tepat. Berikut beberapa cara yang umum dilakukan untuk mengatasi kadar testosteron rendah.

1. Suplemen Herbal yang Mengklaim ‘Booster Testosteron’

Ada banyak suplemen herbal yang dipasarkan sebagai “peningkat testosteron”. Produsen mengklaim bahwa bahan-bahan di dalamnya membantu menaikkan kadar testosteron.

Namun, penelitian menunjukkan buktinya masih minim. Bahkan, sering kali suplemen tersebut tidak mengandung bahan aktif yang benar-benar mendukung klaimnya.

Sebuah penelitian pada tahun 2020 menguji 50 suplemen yang diiklankan untuk “meningkatkan testosteron” dan “meningkatkan gairah seksual”. Hasilnya, kurang dari 25% produk memiliki data ilmiah yang mendukung klaimnya, dan 10% justru mengandung bahan yang dapat menurunkan testosteron.

Selain itu, produk-produk ini tidak diawasi ketat oleh FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat). Artinya, mereka tidak diuji efektivitasnya, bisa saja mengandung bahan tersembunyi, atau menimbulkan efek samping yang tidak terduga.

2. Cara Alami untuk Meningkatkan Testosteron

Beberapa langkah alami juga bisa membantu menjaga atau meningkatkan kadar testosteron.
✅ Pola makan sehat: Pastikan kamu mengonsumsi cukup makanan kaya zink dan vitamin D, karena kedua nutrisi ini berperan penting menjaga kadar testosteron tetap normal.

Ada tujuh jenis makanan yang dipercaya dapat membantu tubuh mendapatkan vitamin dan mineral untuk mendukung kadar testosteron tetap sehat.

Sebuah penelitian pada hewan tahun 2018 bahkan menunjukkan, suplemen zink dapat meningkatkan testosteron dan kesuburan pada mereka yang kekurangan zink ringan.

3. Terapi Pengganti Testosteron (Testosterone Replacement Therapy / TRT)

Terapi ini dilakukan untuk membantu orang dengan kadar testosteron yang sangat rendah. Kekurangan testosteron dapat memengaruhi fungsi tubuh, seperti:

  • Berkurangnya massa otot

  • Turunnya gairah seksual

  • Disfungsi ereksi (ED)

  • Perubahan suasana hati (mudah marah, depresi)

Terapi ini diberikan lewat resep dokter, biasanya dalam bentuk:

  • Pil

  • Patch (plester yang ditempel di kulit)

  • Gel (dioles ke kulit)

  • Suntikan (paling umum, biasanya dilakukan dokter, dan jarang perlu diulang dibanding bentuk lain)

Efek Samping Terapi Pengganti Testosteron

Meski bermanfaat, terapi ini juga memiliki risiko, sehingga pasien biasanya harus sering melakukan tes darah untuk memantau kadar testosteron dan efek sampingnya, seperti:

  • Retensi cairan (tubuh menahan air)

  • Jerawat

  • Pembesaran prostat

  • Penurunan kesuburan

  • Sleep apnea (gangguan pernapasan saat tidur)

  • Penggumpalan darah

  • Peningkatan jumlah sel darah merah

Efek samping bisa berbeda tergantung metode terapi yang digunakan.

Gejala Testosteron Rendah

Kadar testosteron yang terlalu rendah bisa mengganggu dan menurunkan kualitas hidup. Gejalanya bisa termasuk:

  • Berkurangnya rambut tubuh

  • Menyusutnya massa otot

  • Turunnya gairah seksual

  • Disfungsi ereksi (ED)

  • Pertumbuhan jaringan payudara

Kalau kamu mengalami satu atau lebih gejala ini dan tidak yakin penyebabnya, sebaiknya periksakan diri ke dokter. Jika dokter menduga gejala disebabkan kadar testosteron rendah, mereka bisa melakukan tes untuk memastikannya.

Penyebab Testosteron Rendah pada Orang yang Lahir sebagai Laki-laki

Kadar testosteron pada orang yang lahir sebagai laki-laki biasanya stabil sejak pubertas (saat hormon melonjak) sampai usia 30-an, kemudian perlahan menurun.

Namun, pada sebagian orang, penurunan ini bisa terlalu drastis. Penyebabnya bisa termasuk:

  • Penuaan

  • Pubertas yang tertunda

  • Kerusakan testis (akibat cedera, alkoholisme, atau gondongan)

  • Penyakit hipotalamus

  • Penyakit kelenjar pituitari

  • Tumor jinak di pituitari

  • Kemoterapi

Ada juga beberapa penyakit genetik yang memengaruhi testosteron, seperti:

  • Klinefelter syndrome

  • Kallmann syndrome

  • Myotonic dystrophy

Testosteron Rendah pada Orang yang Lahir sebagai Perempuan

Testosteron juga punya peran penting pada orang yang lahir sebagai perempuan, meskipun kadarnya lebih rendah dibanding laki-laki.

Biasanya, kadar testosteron rendah pada perempuan tidak menimbulkan masalah besar. Justru jika kadar testosteron terlalu tinggi, bisa muncul gejala yang tidak diinginkan, seperti:

  • Menstruasi tidak teratur atau berhenti

  • Infertilitas (sulit hamil)

  • Tumbuh rambut di wajah dan tubuh

  • Suara menjadi lebih dalam

Penyebab tingginya testosteron pada perempuan bisa meliputi:

  • PCOS (Polycystic Ovarian Syndrome)

  • Congenital Adrenocortical Hyperplasia

  • Kanker atau tumor ovarium

  • Tumor adrenal

Kesimpulan

Kadar testosteron yang terlalu rendah bisa memengaruhi kesehatan fisik dan emosional, seperti menurunnya massa otot, gairah seksual, hingga perubahan mood. Ada berbagai cara untuk mengatasinya, mulai dari langkah alami seperti olahraga, menjaga berat badan, serta mengonsumsi makanan kaya zinc dan vitamin D, hingga perawatan medis seperti terapi pengganti testosteron (TRT).

Namun, tidak semua “testosterone booster” atau suplemen herbal terbukti aman dan efektif, bahkan sebagian bisa menurunkan kadar testosteron. Karena itu, penting untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum mencoba pengobatan atau suplemen apa pun. Dengan pemantauan dan penanganan yang tepat, kadar testosteron dapat dikembalikan ke level sehat sehingga kualitas hidup tetap terjaga.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *