CFS (Chronic Fatigue Syndrome) atau sindrom kelelahan kronis adalah kondisi medis yang ditandai dengan kelelahan luar biasa yang tidak membaik meskipun sudah beristirahat, dan tidak bisa dijelaskan oleh penyakit lain.
CFS juga dikenal dengan nama lain seperti myalgic encephalomyelitis (ME) atau systemic exertion intolerance disease (SEID).
Penyebab CFS
Penyebab pasti CFS belum diketahui. Para peneliti menduga ada beberapa faktor yang mungkin berperan, seperti:
-
infeksi virus
-
sistem kekebalan tubuh yang lemah
-
stres psikologis
-
ketidakseimbangan hormon
Beberapa orang juga mungkin memiliki kecenderungan genetik untuk mengalami CFS. Meskipun CFS bisa muncul setelah seseorang terkena infeksi virus, belum ada satu jenis virus pun yang dipastikan sebagai penyebab utamanya. Virus yang pernah diteliti dalam kaitannya dengan CFS antara lain:
-
Epstein-Barr virus (EBV)
-
human herpesvirus 6
-
Ross River virus (RRV)
-
virus rubella
Infeksi bakteri seperti Coxiella burnetii dan Mycoplasma pneumoniae juga pernah dikaitkan dengan CFS.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menyatakan bahwa CFS kemungkinan merupakan tahap akhir dari berbagai kondisi yang berbeda, bukan dari satu penyebab tertentu saja. Faktanya, sekitar 1 dari 10 orang yang pernah terkena EBV, RRV, atau Coxiella burnetii bisa mengalami gejala yang sesuai dengan diagnosis CFS, terutama jika mereka mengalami gejala parah saat sakit.
Beberapa penderita CFS juga memiliki sistem kekebalan yang lemah atau kadar hormon yang tidak normal, meskipun belum bisa dipastikan apakah ini penyebab utamanya.
Ada juga yang mengalami kekurangan vitamin tertentu seperti vitamin B2 (riboflavin) atau B12, namun belum ada bukti kuat bahwa suplemen vitamin bisa menyembuhkan CFS.
Siapa yang Berisiko?
CFS bisa dialami siapa saja, tapi paling sering terjadi pada wanita usia 40–50 tahun. Wanita diketahui 2 sampai 4 kali lebih mungkin terkena CFS dibandingkan pria.
Faktor risiko lainnya meliputi:
-
faktor genetik (keturunan)
-
alergi
-
stres berlebihan
-
pengaruh lingkungan sekitar
Diagnosis dan Pengobatan
Karena gejalanya mirip dengan penyakit lain dan belum ada tes khusus untuk mendiagnosis CFS, dokter biasanya akan menyingkirkan penyebab kelelahan lainnya terlebih dahulu sebelum menyimpulkan diagnosis CFS.
Dulu, CFS sempat menjadi diagnosis yang kontroversial, tapi sekarang sudah diakui sebagai kondisi medis yang nyata.
Saat ini belum ada obat yang bisa menyembuhkan CFS, namun pengobatan bisa membantu meredakan gejala.
Apa Saja Gejala CFS?
Gejala CFS bisa berbeda-beda pada setiap orang, tergantung seberapa parah kondisinya.
Gejala utama adalah kelelahan ekstrem yang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Untuk bisa didiagnosis sebagai CFS, kelelahan ini harus berlangsung setidaknya 6 bulan, tidak membaik hanya dengan istirahat di tempat tidur, dan menyebabkan penurunan kemampuan dalam menjalani rutinitas harian.
Selain itu, penderita CFS akan merasa sangat lelah setelah melakukan aktivitas fisik atau mental, yang dikenal sebagai post-exertional malaise (PEM). Rasa lelah ini bisa berlangsung lebih dari 24 jam setelah beraktivitas.
CFS juga bisa menyebabkan masalah tidur, seperti:
-
bangun tidur masih merasa lelah
-
susah tidur dalam jangka panjang (insomnia)
-
gangguan tidur lainnya
Gejala lainnya dapat mencakup:
-
mudah lupa atau sulit mengingat
-
sulit berkonsentrasi
-
merasa pusing atau hampir pingsan saat berdiri dari posisi duduk atau berbaring (disebut orthostatic intolerance)
Gejala fisik lainnya bisa berupa:
-
nyeri otot
-
sering sakit kepala
-
nyeri di beberapa sendi tanpa bengkak atau kemerahan
-
radang tenggorokan yang sering kambuh
-
pembengkakan dan rasa sakit di kelenjar getah bening, terutama di leher atau ketiak
Pada beberapa orang, CFS muncul bergelombang—kadang membaik, lalu memburuk lagi. Ada juga yang mengalami remisi, yaitu saat gejala hilang untuk sementara, namun bisa kembali lagi (relaps).
Pola gejala yang naik-turun ini bisa membuat pengelolaan CFS menjadi menantang, tapi tetap bisa diupayakan.
Bagaimana Cara Mengobati CFS?
Saat ini belum ada obat khusus untuk menyembuhkan CFS.
Karena setiap orang bisa memiliki gejala yang berbeda, pengobatannya pun harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing, bertujuan untuk mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup.
Seperti disebutkan sebelumnya, sebagian penderita CFS mungkin kekurangan vitamin tertentu. Suplemen vitamin mungkin membantu, tapi masih perlu lebih banyak penelitian untuk memastikan manfaatnya.
Yang paling penting, diskusikan kondisi Anda dengan dokter atau tim medis Anda untuk membuat rencana perawatan terbaik. Mereka akan membantu menjelaskan manfaat dan kemungkinan efek samping dari pengobatan yang tersedia.
Kesimpulan
Chronic Fatigue Syndrome (CFS) adalah kondisi medis serius yang ditandai dengan kelelahan ekstrem yang tidak membaik meskipun sudah beristirahat dan berlangsung selama minimal 6 bulan. Penyebab pastinya belum diketahui, namun bisa terkait dengan infeksi, stres, gangguan imun, atau ketidakseimbangan hormon.
Gejalanya beragam, mulai dari kelelahan berat, gangguan tidur, nyeri otot, hingga kesulitan berkonsentrasi. Kondisi ini bisa datang dan pergi (remisi dan relaps), sehingga memerlukan pengelolaan jangka panjang.
Saat ini belum ada obat khusus untuk menyembuhkan CFS, namun gejalanya bisa dikurangi dengan pengobatan yang sesuai. Penanganan terbaik adalah dengan bekerja sama dengan tim medis untuk menyusun rencana perawatan yang tepat sesuai kondisi masing-masing penderita.
